Desahan Wanita Malam Ini Membuatku Semakin

Desahan Wanita Malam Ini Membuatku Semakin

Quality: Year: View: 1,257 views

Desahan Wanita Malam Ini Membuatku Semakin.Akhirnya, aku, wawan, sang pemburu kenikmatan seks memilih untuk menyewa sebuah kamar kost disebuah kampung di sudut sebuah kota. Aku menyewa kamar bukan untuk menetap, namun karena aku ingin agak lama bertualang seks dengan gadis-gadis kota ini yang katanya lugu namun cantik.

Pada sebuah warung makan. Aku sedang menikmati makananku ketika kulihat seorang wanita cantik masuk ke warung itu. Wajahnya sangat putih mulus, dengan bibir tipis dan mata yang sipit, menandakan dia orangnya sinis namun ganas di ranjang. Tubuhnya terhitung kecil tertutupi oleh kecantikannya. Jilbab coklat yang ia pakai menyempurnakan kecantikannya.

Segera aku mencari cara untuk berkenalan. Beberapa saat, tiba-tiba otakku mendapatkan ide. Kenapa tidak pura-pura menabraknya? Mumpung tempat dudukku ada di antara tempat duduknya dan lemari dimana lauk dihidangkan di warung itu. Segera kujalankan rencanaku.

Saat itu datang ketika dia sedang membawa pesanannya dari lemari depan ke mejanya. Pelan-pelan aku mempersiapkan diri, lalu setelah dia kira-kira sudah dekat, segera aku berdiri dan berbalik. “Gubrak!!” “Praang!!” tiba-tiba piring dan gelas berisi makanan sayur dan minuman yang ia bawa tumpah ke bajuku dan bajunya, lalu jatuh pecah di lantai.

“Eh maaf mbak, tidak sengaja…” kataku sambil berwajah bodoh.
Langsung wanita cantik itu ngomel-ngomel dihadapanku. Sudah kuduga, karena memang terlihat wanita cantik ini punya lidah yang tajam. Ah, aku sih sudah kebal.

Akhirnya aku menawarkan untuk membayar semua kerugian dan mentraktirnya bersama dua rekannya. Aku juga menawarkan untuk mengantarnya pulang untuk berganti baju. Semua tawaranku diterimanya mentah-mentah. Akhirnya, di hari pertama sukseslah aku berkenalan dengan wanita cantik berjilbab yang kira-kira berusia 25 tahun itu. Bahkan aku juga sukses mengetahui rumahnya. Padanya aku memperkenalkan diri sebagai seorang pegawai sebuah perusahaan riset dan sedang melakukan riset di kota tersebut.

Tiga hari berlalu, Kami yang selalu bertemu di warung makan itu pun cepat akrab. Percakapan kami sudah mulai mengalir dan seringkali disertai candaan layaknya teman dekat. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya. Pikiranku yang mulai kotor untuk memperkosanya langsung di warung itu membuat si kecil di balik celanaku bangun menggeliat.

Ternyata, wanita cantik berjilbab ini telah menikah, namun suaminya adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan telepon yang sering bepergian keluar kota. suaminya adalah orang yang gila kerja, sehingga walaupun kehidupan mereka terjamin, namun Linda tidak mendapatkan nafkah batin yang layak. Apalagi sang suami seringkali ejakulasi dini, sehingga sering tidak bisa dinikmati oleh Linda.

Pada suatu sore, aku menunggunya di depan kantornya. Ketika ia keluar, segera aku menghampirinya. Wanita cantik itu terkaget melihat aku ada di situ. Aku mengatakan bahwa aku hanya ingin berkunjung kerumahnya. Ternyata dia mempersilahkan. Aku segera mengikuti motornya menuju rumahnya yang ada di sebuah perkampungan sepi, tak jauh dari kantornya.

Setelah masuk, kami ngobrol diruang depan. Linda sedang sendirian dirumah, suaminya sedang diluar kota. Tak beberapa lama, Linda mengajakku untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. aku pun mengikutinya masuk setelah dia mengunci pintu depan.

Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman, kami melanjutkan obrolan kami. Sesekali Linda mencubit lengan atau pahaku sambil tertawa ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegak berdiri.

Aku kemudian usul ke Linda untuk nonton VCD yang kubawa. Linda pun setuju. Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan ranjang. Kami pun asyik menonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku melirik Linda matanya tidak berkedip melihat adegan itu.

Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Linda, ternyata Linda diam saja. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, Linda mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya.

Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian kepalanya yang tertutup jilbab. Linda tampak menikmati, terbukti gadis berjilbab ini diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan kucium pipinya. Linda tidak protes, malah tangan wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu sekarang diletakkan di pahaku, dan aku semakin terangsang.

Lalu kuraih dagunya, kupandang matanya yang sipit dan indah, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tipis itu dan Linda membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.

Lidah kami saling bertautan. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha Icha yang masih tertutup celana panjang hitam, Linda pun seakan memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalam wanita cantik berjilbab itu sampai ke selangkangan dari luar celana panjangnya.

Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perut wanita cantik berjilbab itu kemudian menyusup ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kemeja kerja, Linda merintih lirih. Melihat sang wanita cantik itu merintih-rintih terhanyut birahi dengan wajah yang masih memakai jilbab dan kacamata membuatku semakin bersemangat.

Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kemejanya dan mulai meraba-raba mencari BH Icha. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh putingnya dan Linda mendesah. Seiring dengan itu, tangan Linda juga dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan mengocok dan mengelus.

Tak beberapa lama, tiba-tiba dia berhenti.
“Sudah mas wawan… jangan… aku sudah punya suami… ini zina…”
Aku tidak menjawab sepatah katapun. Mana mau aku kalah dengan kata-kata penolakan seperti itu.

Dengan lembut aku gapai tangan wanita cantik berjilbab itu dan kuremas lembut. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan disofa panjang diruang tengah rumahnya. Tanpa terasa jantungku berdetak keras. Sensasi seperti inilah yang dicari orang sepertiku. Bagaikan dikomando aku menciumi pipi Linda yang bersih dan putih, menjelajahi sisi kepalanya, dan menciumi telinganya.

“Linda kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik.
“Wawan.. Jangan please..,” desahan Linda
Lidahku semakin nakal menciumi dan menjilati pipi Linda yang putih bersih.
“Akhh Wawan..”
Tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Linda yang aku rasakan mulai mengencang.
“Ooohh.. Mas Wawan..”

Linda mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya.
“Lin, aku buka baju kamu yah, biar tidak kusut..,” pintaku.
Linda hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan pakaiannya. Jilbabnya yang melilit lehernya kubiarkan terpakai, begitu juga dengan kaca matanya. Sementara kemeja kerjanya kulepas, sampai akhirnya dia hanya mengenakan BH warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika tubuh Icha yang putih nampak dengan jelas didepanku.

Setelah terbuka, aku ciumi bibir Linda yang tipis, lidahku menjelajahi bibirnya dan memburu lidah Linda yang mulai terangsang dengan aktivitas ku. Tanganku yang nakal mulai menarik BH warna hitam. Dan tersembulah puting yang kencang. Tanpa pikir panjang ku jilati puting Linda yang berwana kecoklatan.

Satu dua kali hisapan membuat puting Icha berdiri dengan kencang. Sedangkan tangan kananku memilin puting yang lainnya.
“Ooohh Wawan.. Kamu… ouuhh… udahh…enak…” rintih Linda.

Linda berusaha bangkit dari sofa, tapi aku tidak memberikan kesempatan Linda untuk bangkit. Aroma khas tubuh Linda menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuh Icha. Dengan bekal pengetahuan seks yang aku ketahui, aku semakin berani berbuat lebih jauh.

Aku segera melucuti celana panjang kerjanya tanpa perlawanan yang berarti dari Linda. Langsung aku membuka CD Linda, darahku mendesir saat melihat tidak ada sehelai rambutpun di vagina Linda. Aku pun langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina Linda.

“Oohh.. Wawan…jangan…ntar aku… mmhhh… enak.. Nikmat..!!” Linda merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaanya.
“Enaakk..waaan…..” Desah Linda disaat kocokkan jariku semakin cepat.

Linda sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri orang yang mau orgasme dan sesat kemudian..
“Wawan..udaah… Aku nggak tahan.. Oohh.. Mass aku mau..” Linda menggelinjang hebat sambil menggapit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa sesak dibuatnya.
“Wan.. oohh.. Aku keluaarr..” jerit Linda menikmati orgasmenya.

Linda merintih panjang dia mengejat-ngejat. Aku biarkan dia terlentang menikmati orgasmenya yang pertama, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan. Aku memperhatikan Linda begitu puas dengan foreplay aku tadi, itu terlihat dari raut wajah Icha yang tampak begitu puas.

Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuh wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir sofa, dan tanpa pikir panjang penisku yang berukuran besar, langsung menghujam celah kenikmatan Linda yang sontak meringis..
“Aaahh.. Wawan..,” desah Linda saat penisku melesak ke dalam lubang vaginanya.
“Mass.. Penis kamu besar sekali.. Aakkh..”

Aku merasakan setiap gapitan bibir vagina Icha yang begitu seret, sampai aku meringis ngilu disetap gerakan keluar masukku. Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Linda menggelinjang hebat.
“Wan.. Sudah.. Ahh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan vagina mengapit batang penisku.

Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari vagina Linda. Aku tidak mempedulikan desahan Linda yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memasukkan penisku yang agak bengkok ke kiri. Tiba-tiba Linda mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Penisku bergerak keluar masuk dengan cepat dan. Sesaat kemudian aku melepas penisku dan mengarahkan ke mulut Linda yang masih terlentang. Aku biarkan dia oral penisku sejenak, lalu segera kembali menjejalkan penisku dalam vagina wanita cantik berjilbab itu.

“Wan.. Aku.. Mau.. Keluar lagi.. Kamu hebat wan..aku.. Nggak tahan..”
Seiring jertian itu, aku merasakan cairan hangat kembali meleleh disepanjang batang penisku.
“Aaakhh.. Sayang.. Enak sekali.. Ooohh..,” rintih Linda.

“Liin.. aku boleh keluarin di dalam..,” aku tanya Linda.
“Jangan.. Aku nggak mau, entar aku hamil,” jelas Linda.
“Nggak deh Lin.. jangan khawatir..,” rengekku.
“Jangan Wan.. Aku nggak mau..,” rintihan Linda membuat aku semakin bernafsu.
Kembali aku menggerakkan pinggulku maju mundur.
“Akhh.. Oohh.. Wawan.. keluarin penis kamu.. Aaahh..,” Linda memintaku.

Disaat aku mulai mencapai klimaks, Linda meminta berganti posisi diatas.
“Wawanh..gan..tian.. aku ingin diatas..”
Aku melepas penisku dan langsung terlentang. Linda bangkit dan Iangsung menancapkan penisku dalam-dalam di lubang kewanitaannya.
“Ahh gila, penis kamu hebat Wan nikmaat..” Linda merintih sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Aduhh enak Wan..”

Goyangan pinggul Linda membuat gelitikan halus di penisku..
“Lindaa.. Akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Linda menggoyang pinggulnya.
“Mass.. Aku mau keluar sayang..,” sambil merintih panjang, Linda menekankan dalam-dalam tubuhnya hlngga penisku “hilang” ditelan vaginanya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan klimaks sudah diujung kepala.
“Aaahh.. Ahh..”

Aku biarkan spermaku muncrat di dalam vaginanya. Dan semburan spermaku langsung keluar di dalam Lubang vagina Linda, bersamaan dengan kembali mengejat-ngejatnya tubuh Linda menikmati orgasmenya yang kesekian kalinya, lalu terhempas jatuh di sofa ruang tengahnya.

Aku segera mengatur nafasku, lalu segera berpakaian. Aku mencari dapur dan mengambilkan Linda segelas air putih. Ketika aku kembali ke ruang tengah, aku temui Linda sudah duduk termenung.
“Makasih ya lin..” kataku sambil mengecup keningnya.
“Aku takut hamil, wan..” kata Linda.
Aku hanya tersenyum.
“Gak bakal. Tenang saja…” Persetan, pikirku.

Setelah beberapa waktu duduk dan memeluknya, aku segera berpamitan dan kembali ke kostku, dengan tubuh yang lelah namun penuh kepuasan.

Country:
Cast:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *